SAMARINDA-Insiden fatal saat peresmian RDMP Balikpapan oleh Presiden Prabowo Subianto telah memicu reaksi keras dari seluruh tokoh dan ormas kedaerahan di Kaltim.
Pada saat peresmian RDMP tersebut Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura oleh Protokol di kasih tempat duduk di belakang, memicu amarah salah satunya dari Lembaga Adat dan Kekerabatan Kesultanan Banjar Kaltim dianggap sebagai tindakan yang tidak menghormati dan melanggar adab setempat.
“Bahwa kejadian tersebut sangat melukai hati kami sebagai orang daerah,” ujar Ketua Lembaga Adat dan Kekerabatan Kesultanan Banjar Kaltim, Gusti Addy Rachmany SH.
“Dengan bangganya orang yang tidak mengerti Adab ( para pejabat dan petinggi Pertamina) duduk membelakangi Sultan yang adalah tokoh dari turunan sultan Kutai AM. Parikesit yang dulunya dengan suka rela menyatakan bergabung dengan indonesia,” tambahnya.
Warga asli Kalimantan merasa bahwa tindakan tersebut tidak hanya menghina Sultan, tetapi juga mengabaikan sejarah dan budaya Kutai. Mereka mengingatkan bahwa Sultan Kutai memiliki peran penting dalam sejarah Indonesia, dan tindakan seperti itu tidak dapat diterima.
“Ini bukan hanya tentang menghormati Sultan, tapi juga tentang menghormati sejarah dan budaya kita sendiri, kami berharap kejadian seperti ini tidak terulang lagi dan orang-orang dapat lebih memahami dan menghormati adat dan tradisi kita.”tegas Gusti mengingatkan Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud agar junjung tinggi Adab daripada Jabatan.
Hingga saat ini Sultan sendiri belum memberikan komentar resmi terkait insiden tersebut. Namun, seluruh putra daerah Kaltim berharap bahwa Gubernur Kaltim maupun pihak Pertamina datang secara langsung ke Kedaton dan meminta maaf kepada Sultan agar kejadian ini dapat menjadi pelajaran bagi semua pihak untuk lebih menghormati dan memahami adat dan tradisi lokal.
