Tenggarong– Di bawah naungan keagungan Keraton Kutai Kartanegara, sosok T.G.H. Muhammad Fathur Rahman, S.H., M.H., yang akrab disapa Ustadz Pink, telah menjadi bagian dari sejarah spiritual kesultanan. Kedekatannya bermula sejak masa kepemimpinan almarhum Yang Mulia Sultan Haji Aji Muhammad Salehuddin II, di mana sang Sultan memberikan anugerah istimewa berupa gelar “Al Kutai” di belakang namanya serta gelar kebangsawanan Mas Noto Anoem.
Pemberian gelar ini bukan sekadar simbol kedekatan, melainkan wujud kepercayaan tinggi dari sang Sultan atas dedikasi ustadz muda tersebut dalam menjaga marwah agama di tanah Kutai.
Sebuah amanah luhur terpatri kuat di pundak Ustadz Pink ketika Sultan ke-20 berpesan agar ia tidak pernah berhenti berdakwah di tanah Kutai. Pesan itu ia jaga dengan penuh takzim hingga masa pemerintahan Sultan ke-21 saat ini, Yang Mulia Aji Sultan Muhammad Arifin.
Sejak tahun 2009, kehadiran Ustadz Pink telah menjadi pemandangan yang tak terpisahkan dalam setiap helatan akbar Erau. Beliau selalu didaulat sebagai pembaca doa dan pemberi tausyiah di lingkungan kesultanan, menjadi jembatan antara nilai-nilai syariat dan adat istiadat yang telah mengakar selama berabad-abad.
Setiap kata dalam tausyiahnya dan setiap bait doa yang dilantunkan di tengah kemegahan Erau menjadi bukti kepatuhannya terhadap amanah sang Sultan. Gelar “Al Kutai” yang ia sandang adalah pengingat abadi bahwa jiwanya telah menyatu dengan bumi etam.
Di hadapan keluarga kesultanan dan rakyat Kutai, T.G.H. Muhammad Fathur Rahman terus berdiri teguh, merawat cahaya iman sekaligus menjaga warisan budaya, memastikan bahwa setiap doa yang melangit dari keraton membawa keberkahan bagi seluruh negeri.
