Kepsek SMP Negeri 28 Samarinda, Agus, S.Pd( foto:istimewa).
Tak bisa menunggu. SMPN 28 Samarinda langsung tancap gas pasca terungkapnya 12 siswa SMP di Samarinda Seberang pengguna sinte. Kepsek Agus, S.Pd menerapkan pembinaan tiap Jumat dan pengawasan harian oleh guru. “Ada gejala, langsung ke BK,” tegasnya.
SAMARINDA – Bahaya narkotika jenis baru telah merangsek ke bangku sekolah. Sebanyak 12 siswa Sekolah Menengah Pertama/SMP di kawasan Samarinda Seberang, Kota Samarinda terkonfirmasi positif menggunakan narkotika jenis kanabinoid sintetis atau tembakau sintetis “sinte”.
Kasus mengejutkan ini terungkap pada 31 Juli 2026 setelah salah satu siswa mengalami kejang-kejang usai mengonsumsi zat tersebut bersama teman-temannya di belakang sekolah.
Peristiwa ini menjadi alarm keras bagi seluruh stakeholder pendidikan di Kaltim, khususnya terkait maraknya peredaran sinte yang murah, mudah didapat, dan menyasar anak di bawah umur.
Menanggapi kejadian tersebut, SMPN 28 Samarinda mengambil langkah konkret. Kepala Sekolah Agus, S.Pd menegaskan pihaknya tidak tinggal diam.
Sebagai bentuk pencegahan, sekolah rutin memberikan edukasi dan penguatan kepada seluruh siswa.
“Langkah antisipasi adalah pada setiap hari Jum’at setelah kegiatan Senam siswa diberikan pengarahan oleh guru-guru atau saya sebagai kepala sekolah tentang bahaya narkoba dan rokok,” ujar Agus saat dikonfirmasi via pesan WhatsApp, Senin (24/8/2026).
Agus menyebut pembinaan rutin ini penting agar siswa memahami dampak fatal sinte. Zat ini bisa menyebabkan halusinasi, gangguan jantung, kejang, hingga kematian.
Selain pembinaan massal, pengawasan di dalam kelas juga diperketat. Agus meminta seluruh guru lebih peka terhadap perubahan perilaku siswa.
“Dan setiap hari para guru yang mengajar di kelas selalu memperhatikan jika ada prilaku yang menunjukkan indikasi atau gejala menggunakan narkoba maka saat itu juga siswa diarahkan ke ruang BK untuk konsultasi dengan guru BK,” pungkasnya.
Kepsek yang dikenal tegas namun ramah ini menegaskan tidak ada toleransi. Pendekatan yang dilakukan adalah pembinaan, konseling, dan jika diperlukan koordinasi dengan orang tua serta pihak berwenang.
Kasus 12 siswa ini membuktikan bahwa sinte sudah bukan lagi isu orang dewasa. Jaringan pengedar menyasar anak sekolah karena harganya murah dan kemasannya menyerupai rokok biasa.
Pemerintah kota, BNN, kepolisian, dan masyarakat diminta bersinergi. Sekolah tidak bisa bekerja sendiri. Diperlukan razia, penyuluhan ke orang tua, dan penindakan tegas terhadap pengedar yang beroperasi di sekitar lingkungan sekolah.
Kasus ini menjadi pengingat, jika tidak dicegah dari sekarang, satu generasi bisa hilang karena jerat narkoba jenis baru.
Pentingnya para Orang tua diminta meningkatkan pengawasan dan komunikasi dengan anak. Jika menemukan indikasi penyalahgunaan, segera laporkan ke sekolah, BNN, atau kepolisian.
